Minggu, 15 Oktober 2017

Awal Mula Suku Bugis

Nama saya Riswan, umur 20 tahun saya tinggal di desa Tolowe Ponre Waru Kabupaten Kolaka, Kecamatan Wolo, Sulawesi Tenggara. Dan disulawesi tenggara ini penduduk aslinya adalah suku Tolaki namun semakin lama banyak suku-suku yang mulai pindah kedaerah ini termasuk suku saya yaituu suku Bugis nahhhh untuk untuk mengetahui bagaimana sejarah suku bugis silahkan dibaca yaaaa......
Bugis adalah suku yang tergolong ke dalam suku-suku Deutero Melayu. Masuk ke Nusantara setelah gelombang migrasi pertama dari daratan Asia tepatnya Yunan. Kata “Bugis” berasal dari kata To Ugi, yang berarti orang Bugis. Penamaan “ugi” merujuk pada raja pertama kerajaan Cina yang terdapat di Pammana, Kabupaten Wajo saat ini, yaitu La Sattumpugi. Ketika rakyat La Sattumpugi menamakan dirinya, maka mereka merujuk pada raja mereka. Mereka menjuluki dirinya sebagai To Ugi atau orang-orang atau pengikut dari La Sattumpugi.
La Sattumpugi adalah ayah dari We Cudai dan bersaudara dengan Batara Lattu, ayahanda dari Sawerigading. Sawerigading sendiri adalah suami dari We Cudai dan melahirkan beberapa anak termasuk La Galigo yang membuat karya sastra terbesar di dunia dengan jumlah kurang lebih 9000 halaman folio. Sawerigading Opunna Ware (Yang dipertuan di Ware) adalah kisah yang tertuang dalam karya sastra I La Galigo dalam tradisi masyarakat Bugis. Kisah Sawerigading juga dikenal dalam tradisi masyarakat Luwuk, Kaili, Gorontalo dan beberapa tradisi lain di Sulawesi seperti Buton.
1.      Perkembangan suku bugis
Dalam perkembangannya, komunitas ini berkembang dan membentuk beberapa kerajaan. Masyarakat ini kemudian mengembangkan kebudayaan, bahasa, aksara, dan pemerintahan mereka sendiri. Beberapa kerajaan Bugis klasik antara lain Luwu, Bone, Wajo, Soppeng, Suppa, Sawitto, Sidenreng dan Rappang. Meski tersebar dan membentuk suku Bugis, tapi proses pernikahan menyebabkan adanya pertalian darah dengan Makassar dan Mandar.
Saat ini orang Bugis tersebar dalam beberapa Kabupaten yaitu Luwu, Bone, Wajo, Soppeng, Sidrap, Pinrang, Sinjai, Barru. Daerah peralihan antara Bugis dengan Makassar adalah Bulukumba, Sinjai, Maros, Pangkajene Kepulauan. Daerah peralihan Bugis dengan Mandar adalah Kabupaten Polmas dan Pinrang. Kerajaan Luwu adalah kerajaan yang dianggap tertua bersama kerajaan Cina (yang kelak menjadi Pammana), Mario (kelak menjadi bagian Soppeng) dan Siang (daerah di Pangkajene Kepulauan)
2.      Masa Kerajaan Kerajaan Bone
Di daerah Bone terjadi kekacauan selama tujuh generasi, yang kemudian muncul seorang To Manurung yang dikenal Manurungnge ri Matajang. Tujuh raja-raja kecil melantik Manurungnge ri Matajang sebagai raja mereka dengan nama Arumpone dan mereka menjadi dewan legislatif yang dikenal dengan istilah ade pitue.
a)      Kerajaan Makassar
Di abad ke-12, 13, dan 14 berdiri kerajaan Gowa, Soppeng, Bone, dan Wajo, yang diawali dengan krisis sosial, dimana orang saling memangsa laksana ikan. Kerajaan Makassar kemudian terpecah menjadi Gowa dan Tallo. Tapi dalam perkembangannya kerajaan kembar ini kembali menyatu menjadi kerajaan Makassar.
b)      Kerajaan Soppeng
Di saat terjadi kekacauan, di Soppeng muncul dua orang To Manurung. Pertama, seorang wanita yang dikenal dengan nama Manurungnge ri Goarie yang kemudian memerintah Soppeng ri Aja. dan kedua, seorang laki-laki yang bernama La Temmamala Manurungnge ri Sekkanyili yang memerintah di Soppeng ri Lau. Akhirnya dua kerajaan kembar ini menjadi Kerajaaan Soppeng.
c)      Kerajaan Wajo
Sementara kerajaan Wajo berasal dari komune-komune dari berbagai arah yang berkumpul di sekitar danau Lampulungeng yang dipimpin seorang yang memiliki kemampuan supranatural yang disebut puangnge ri lampulung. Sepeninggal beliau, komune tersebut berpindah ke Boli yang dipimpin oleh seseorang yang juga memiliki kemampuan supranatural. Datangnya Lapaukke seorang pangeran dari kerajaan Cina (Pammana) beberapa lama setelahnya, kemudian membangun kerajaan Cinnotabi. Selama lima generasi, kerajaan ini bubar dan terbentuk Kerajaan Wajo.
3.      Konflik antar Kerajaan
Pada abad ke-15 ketika kerajaan Gowa dan Bone mulai menguat, dan Soppeng serta Wajo mulai muncul, maka terjadi konflik perbatasan dalam menguasai dominasi politik dan ekonomi antar kerajaan. Kerajaan Bone memperluas wilayahnya sehingga bertemu dengan wilayah Gowa di Bulukumba. Sementara, di utara, Bone bertemu Luwu di Sungai Walennae. Sedang Wajo, perlahan juga melakukan perluasan wilayah. Sementara Soppeng memperluas ke arah barat sampai di Barru.
Perang antara Luwu dan Bone dimenangkan oleh Bone dan merampas payung kerajaan Luwu kemudian mempersaudarakan kerajaan mereka. Sungai Walennae adalah jalur ekonomi dari Danau Tempe dan Danau Sidenreng menuju Teluk Bone. Untuk mempertahankan posisinya, Luwu membangun aliansi dengan Wajo, dengan menyerang beberapa daerah Bone dan Sidenreng. Berikutnya wilayah Luwu semakin tergeser ke utara dan dikuasai Wajo melalui penaklukan ataupun penggabungan. Wajo kemudian bergesek dengan Bone. Invasi Gowa kemudian merebut beberapa daerah Bone serta menaklukkan Wajo dan Soppeng. Untuk menghadapi hegemoni Gowa, Kerajaan Bone, Wajo dan Soppeng membuat aliansi yang disebut “tellumpoccoe”.
4.      Penyebaran Islam
Pada awal abad ke-17, datang penyiar agama Islam dari Minangkabau atas perintah Sultan Iskandar Muda dari Aceh. Mereka adalah Abdul Makmur (Datuk ri Bandang) yang mengislamkan Gowa dan Tallo, Suleiman (Datuk Patimang) menyebarkan Islam di Luwu, dan Nurdin Ariyani (Datuk ri Tiro) yang menyiarkan Islam di Bulukumba.
a)      Kolonialisme Belanda
Pertengahan abad ke-17, terjadi persaingan yang tajam antara Gowa dengan VOC hingga terjadi beberapa kali pertempuran. Sementara Arumpone ditahan di Gowa dan mengakibatkan terjadinya perlawanan yang dipimpin La Tenri Tatta Daeng Serang Arung Palakka. Arung Palakka didukung oleh Turatea, kerajaaan kecil Makassar yang tidak sudi berada dibawah Gowa. Sementara Sultan Hasanuddin didukung oleh menantunya La Tenri Lai Tosengngeng Arung Matowa Wajo, Maradia Mandar, dan Datu Luwu. Perang yang dahsyat mengakibatkan benteng Somba Opu luluh lantak. Kekalahan ini mengakibatkan ditandatanganinya Perjanjian Bongaya yang merugikan kerajaan Gowa.
Pernikahan Lapatau dengan putri Datu Luwu, Datu Soppeng, dan Somba Gowa adalah sebuah proses rekonsiliasi atas konflik di jazirah Sulawesi Selatan. Setelah itu tidak adalagi perang yang besar sampai kemudian di tahun 1905-6 setelah perlawanan Sultan Husain Karaeng Lembang Parang dan La Pawawoi Karaeng Segeri Arumpone dipadamkan, maka masyarakat Bugis-Makassar baru bisa betul-betul ditaklukkan Belanda. Kosongnya kepemimpinan lokal mengakibatkan Belanda menerbitkan Korte Veklaring, yaitu perjanjian pendek tentang pengangkatan raja sebagai pemulihan kondisi kerajaan yang sempat lowong setelah penaklukan. Kerajaan tidak lagi berdaulat, tapi hanya sekedar perpanjangan tangan kekuasaaan pemerintah kolonial Hindia Belanda, sampai kemudian muncul Jepang menggeser Belanda hingga berdirinya NKRI.
5.      Masa Kemerdekaan
Para raja-raja di Nusantara bersepakat membubarkan kerajaan mereka dan melebur dalam wadah NKRI. Pada tahun 1950-1960an, Indonesia khususnya Sulawesi Selatan disibukkan dengan pemberontakan. Pemberontakan ini mengakibatkan banyak orang Bugis meninggalkan kampung halamannya. Pada zaman Orde Baru, budaya periferi seperti budaya di Sulawesi benar-benar dipinggirkan sehingga semakin terkikis. Sekarang generasi muda Bugis-Makassar adalah generasi yang lebih banyak mengkonsumsi budaya material sebagai akibat modernisasi, kehilangan jati diri akibat pendidikan pola Orde Baru yang meminggirkan budaya mereka. Seiring dengan arus reformasi, munculah wacana pemekaran. Daerah Mandar membentuk propinsi baru yaitu Sulawesi Barat. Kabupaten Luwu terpecah tiga daerah tingkat dua. Sementara banyak kecamatan dan desa/kelurahan juga dimekarkan. Namun sayangnya tanah tidak bertambah luas, malah semakin sempit akibat bertambahnya populasi dan transmigrasi.
6.      Mata Pencaharian
Karena masyarakat Bugis tersebar di dataran rendah yang subur dan pesisir, maka kebanyakan dari masyarakat Bugis hidup sebagai petani dan nelayan. Mata pencaharian lain yang diminati orang Bugis adalah pedagang. Selain itu masyarakat Bugis juga mengisi birokrasi pemerintahan dan menekuni bidang pendidikan.
7.      Bugis Perantauan
Kepiawaian suku Bugis-Makasar dalam mengarungi samudra cukup dikenal luas, dan wilayah perantauan mereka pun hingga Malaysia, Filipina, Brunei, Thailand, Australia, Madagaskar dan Afrika Selatan. Bahkan, di pinggiran kota Cape Town, Afrika Selatan terdapat sebuah suburb yang bernama Maccassar, sebagai tanda penduduk setempat mengingat tanah asal nenek moyang mereka.
a)      Bugis di Kalimantan Selatan
Pada abad ke-17 datanglah seorang pemimpin suku Bugis menghadap raja Banjar yang berkedudukan di Kayu Tangi (Martapura) untuk diijinkan mendirikan pemukiman di Pagatan, Tanah Bumbu. Raja Banjar memberikan gelar Kapitan Laut Pulo kepadanya yang kemudian menjadi raja Pagatan. Kini sebagian besar suku Bugis tinggal di daerah pesisir timur Kalimantan Selatan yaitu Tanah Bumbu dan Kota Baru.
b)      Bugis di Sumatera dan Semenanjung Malaysia
Setelah dikuasainya kerajaan Gowa oleh VOC pada pertengahan abad ke-17, banyak perantau Melayu dan Minangkabau yang menduduki jabatan di kerajaan Gowa bersama orang Bugis lainnya, ikut serta meninggalkan Sulawesi menuju kerajaan-kerajaan di tanah Melayu. Disini mereka turut terlibat dalam perebutan politik kerajaan-kerajaan Melayu. Hingga saat ini banyak raja-raja di Johor yang merupakan keturunan Bugis.
8.      Penyebab Merantau
Konflik antara kerajaan Bugis dan Makassar serta konflik sesama kerajaan Bugis pada abad ke-16, 17, 18 dan 19, menyebabkan tidak tenangnya daerah Sulawesi Selatan. Hal ini menyebabkan banyaknya orang Bugis bermigrasi terutama di daerah pesisir. Selain itu budaya merantau juga didorong oleh keinginan akan kemerdekaan. Kebahagiaan dalam tradisi Bugis hanya dapat diraih melalui kemerdekaan.

Sabtu, 07 Oktober 2017

Cerita Lucu Naik Eskalator


Assalamualaikum Wr. Wb
Saya riswan sekolah di SMA jurusan petenakan, pada waktu kelas 1 MA, disekolah saya itu ada rumah kosong kemudian kami beserta teman-teman sejurusan membuat kesepakatan untuk membuat usaha ayam pedaging (ayam potong). Jadi kami harus meminta izin dulu kepada kepala sekolah untuk mengelolah rumah tersebut, dan kami pun diizinkan. Keesokan harinya guru yang mengajar kami mengirim 100 ekor anak ayam pedaging. Dan kami pun memeliharanya sampai kurang lebih 1 bulan dan kebetulan hari itu adalah bulan ramadhan jadi ayak
kita laku habis di beli orang.
 Setelah naik kelas 2 MA kami harus keluar daerah untuk praktik biasa disebut dengan PPL karna kurangnya fasilitas yang ada di kampung. Kami memutuskan untuk pergi di kendari karena guru kami tinggalnya dikendari dan kebetulan pemilik peternakan tersebut adalah  teman mereka. Sebelum berangkat kami harus menyetor uan sebesar 250.000 rupiah itu sudah sampai di tempat tujuan. Kesokan harinya kami berangkat dengan barang yang lumayan banyak kami menyewa 2 kendaraan satunya untuk guru pembimbing dan satunya lagi untuk siswa. Untuk yang pertama kalinya saya merasakan naik mobil yang sangat jauh. Ditengah perjalanan kami singgah di tepi jalan untuk makan siang, sambil makan kami tdk lupa memotret moment-moment yang  sederhana ini namun terkenang di hati. Kemudian saya bertanya kepada pak guru “pak masih jauhka?” guru saya menjawab “masih jauh” kemudian saya terdiam dan membayangkan kira-kira sampai di sana jam berapa yaa?. Kemudian kami melanjutkan perjalanan sesampainya di sana kami di sambut dengan kakak-kakak senior yang kebetulan PPL di situ selama 1 bulan.
Nah, pada malam harinya itu kami sangat lelah, dan teman saya punya ide bagaimna kalau kita sewa angkot lalu pergi kemall (lippo plaza), dan kami pun sangat senang Karena untuk yng pertama kalinya saya menginjakkan kaki saya keMALL, kemudian kami berangkat sesampainya di depan MALL, saya tdk bisa berkata apa-apa ya begitulah maklum orang kampung baru liat mall secara nyata biasanya litany hanya di televisi. Kemudian kami masuk dan kami langsung naik di lantai 2 menggunakan tangga escalator (tangga berjalan) sudah liat aja bingung cara menginjakkak kaki gimana, namun saya memperhatikan orang-orang yang naik saya berkata “ooooo ternyata caranya begitu” kemudian saya mencoba pas saya meletakkan kaki di tangga itu saya langsung keringat dingin gemetar, pas kaki saya yang kiri naik saya hampir terjatuh kebelakang, kalau terjatuh malunya itu  sampai dunia akhirat karena semua orang pasti matanya tertuju kepada saya. Kemall itu saya memakai pakaian yang biasa di pakai dikampung memakai celana sekolah abu-abu dan baju kemeja biasa ya terlihat kampunga sihh, namun saya berpikir aneh-aneh. Sekian lama keliling saya mulai pandai naik turun escalator ngga seperi yang pertama pas mau naik hampir jatuh biasa orng kampung baru masuk mall hehehhehehe.
Sekian dulu ya cerita saya, yang saya ingat hanya itu.
Wassalamualaikum Wr. Wb.


Jumat, 06 Oktober 2017

Keinginan Yang Belum Tercapai



“Assalamualaikum Wr. Wb, Haii apa kabar semua semoga sehat selalu yaaa dan jangan lupa bersyukur yaaa”
Pada suatu hari saya kepingin sekali memiliki kendaraan agar kemanapun pergi akan terasa lebih mudah. Terkadang saya kalau lagi sendiri suka mengahayal saya mengtakan “andaikan saya punya motor saya bisa pergi kemana saja”. Terkadang ketika ada suatu kegiatan saya jarang sekali hadir karena tdak adanya kendaraan. Waktu masih sekolah di madrasah tsanawiyah saya selalu ingin naik motor kesekolah tapi yaaa itu cuma khayalan. Saya pulng balik sekolah rumah sekolah rumah jaraknya itu kurang lebih 2 kilometer, lumayan jauhlah sampai-sampaii saya terkadang terlambat kesekolah tetapi kadang juga orang yang berhati baik singgah memungut saya “membonceng” sehingga tidak terlambat. Sudah cape jalan kaki kesekolah tiba di sekolah dihukum lagi dengan jalan bebek keliling lapangan untung lapangannya tidak terlalu luas karena keliling lapangan voli. Di situ terkadang saya merasa sedih, kadang juga saya merasa bersyukur karena masih diberi kesehatan. Lagi-lagi lulus tsanawiyah masih mengalami nasib yang sama yaitu keinginan belum tercapai. Disitu terkadang saya merasa malas sekali hadir ketika ada kegiatan di sekolah. Kemudian saya melanjutkan sekolah madrasah aliyah berharap di tingkatan sekolah ini keinginan sudah tercapai, namun blum juga tercapai. 
Setelah lulus madrasah aliyah, saya melanjutkan pendidikan di institute agama islam negeri kendari yang berada di ibu kota provinsi Sulawesi tenggara. Lagi-lagi belum juga tercapai apa yang saya inginkan, stelah kuliah saya mengurus beasiswa dan saya berharap besiswa ini cukup untuk membeli sesuatu yg saya ingikan. Setelah beasiswa itu sdh keluar saya kemudian meminta izin kepada orang tua saya bilang “mak saya mau beli motor” dan  ibu saya pun berkata “nantilah kamu beli ini belum saatnya kamu untuk mimiliki apa yang kamu inginkan, suatu saat nanti pasti bisa memilikinya” kemudian saya berkata lagi “ kan uang ini cukup?” dan ibu saya berkata lagi “belilah yang bersangkutan dengan kuliahmu” kemudian saya berkata “ ok lah”. Setelah disemester 2,besiswa keluar lagi namun, orang tua saya lagi butuh uang dan tanpa pikir panjang sy langsung transfer uang itu meskipun dalam hati saya mengatakan “aduh tdk jadi lagi beli”. Naik di semester 3 masih hal yang sama lagi-lagi butuh uang dan saya transfer lagi. Dan disemester ini semester 4, saya mau beli tapi dilarang oleh orang tua karena takutnya uang saya habis, dan jangan sampai lagi krisis moneter jadi kita mau makan apa coba. Hingga sekarang ini keinginan saya belum tercapai. Saya masih jalan kaki kekampus.
            Terkadang saya merasa jengkel karena masih saja jalan kaki, namun saya sangat bersyukur karena masih kuat untuk pergi kemana pun saya mau meskipun itu menggunakan tenaga. Dan saya tak henti-hentinya berdoa kepada yang maha kuasa agar selalu di beri kesehatan dan rezki yang melimpah agar saya bisa memiliki sesuatu yang saya inginkan.
            Jika keinginan kita belum tercapai berdoa dan berusahalah karena jika hanya berdoa tanpa ada usaha maka kita tidak akan mendapatkannya dan jangan lupa juga bersyukur kepada yang maha kuasa atas rezki yang diberikan kepada kita karena bersykur itu dapat menambah rezki yang kurang.
“Sekian dulu yaaaa cerita aku hari ini wait for the next story”
Thank You

Wassalamualaikum Wr. Wb.

Jumat, 29 September 2017

Didiklah Anak Sesuai Fitrah

Didiklah anak sesuai fitrah.

Fitrah apa?
Ada beberapa fitrah.
Diantaranya fitrah iman, fitrah belajar, fitrah bakat dan fitrah seksualitas.
Fitrah seksualitas?
Wow, , ,
Seperti apa itu?

***
Mendidik anak sesuai fitrah seksualitas artinya mengenalkan anak bagaimana bersikap, berpikir, dan merasa seperti gendernya.
Jika ia anak perempuan, maka kita bangkitkan fitrah seksualitasnya sbg perempuan.
Jika ia laki-laki, maka kita bangunkan fitrah seksualitasnya sebagai laki-laki.
Pertanyaan berikutnya yang muncul, bagaimana tekhnis membangkitkan fitrah seksualitas ini ?
Ada beberapa tahap yg perlu kita kawal di tiap fasenya.

***
Usia 0 - 2 tahun
Pada usia ini anak harus dekat dengan bundanya.
Pendidikan tauhid pertama adalah menyusui anak sampai 2 tahun.
Menyusui, bukan memberi asi.
Langsung disusui tanpa pumping.

***
Usia 3 - 6 tahun
Pada usia ini anak harus dekat dengan kedua orang tuanya.
Dekat dengan bundanya, juga dekat dengan ayahnya.
Perbanyak aktivitas bersama.

***
Usia 7 - 10 tahun
Pada usia ini dekatkan anak sesuai gendernya.
Jika anak laki-laki, maka dekatkan dengan ayahnya.
Ajaklah anak beraktifitas yg menonjolkan sisi ke-maskulin-annya. Seperti mencuci motor, cuci mobil, akrab dengan alat-alat pertukangan, agar ia bisa mulai mandiri.
Jika anak perempuan , maka dekatkan dengan bundanya.
Libatkan anak dalam aktifitas yg menonjolkan sisi kemaskuliannya seperti mengajak anak kedapur untuk memasak agar bersih-bersih rumah agar ia tahu bahwa seperti inilah pekerjaan seorang perempuan.

***
Usia 11 - 14 tahun
Usia ini sudah masuk tahap pre aqil baligh akhir dan pada usia ini mulailah switch/menukar kedekatan.
Lintas gender.
Jika anak laki-laki, maka dekatkan pada bundanya.
Jika anak perempuan, maka dekatkan pada ayahnya.

***
Ada sebuah riset yg menunjukkan jika seorang anak perempuan tidak dekat dengan ayahnya pada fase ini maka data menunjukkan anak tersebut 6x lebih rentan akan ditiduri oleh laki-laki lain.

Jika tidak dekat dengan ayahnya, maka anak perempuan akan mudah terpikat dengan laki-laki yg menawarkan perhatian dan cinta meski hanya untuk kepuasan dan mengambil keuntungan semata.
Logis juga sih.

Saat ada laki-laki yg memuji kecantikannya, mungkin ananda tidak mudah terpengaruh karena ada ayahnya yang lebih sering memujinya.
Kalau ada laki-laki yg memberikan hadiah, ananda tak akan gampang klepek-klepek karena ada ayahnya yang lebih dulu mencurahkan perhatian dan memberi hadiah.
Pada fase ini jika anak perempuan harus dekat dengan ayahnya, maka sebaliknya, anak laki-laki harus dekat dengan bundanya.

Efek yg sangat mungkin muncul jika tahap ini terlewat, maka anak laki-laki punya potensi lebih besar untuk jadi suami yang kasar, playboy, dan tidak memahami perempuan.
Ada yang tanya, lho kalau orang tuanya bercerai atau LDR bagaimana?

Hadirkan sosok lain sesuai gender yg dibutuhkan.
Misalnya saat ia tak punya ayah, maka cari laki-laki lain yanh bisa menjadi sosok ayah pengganti.
Bisa kakek, atau paman.
Sama dengan rasulullah.
Meskipun tak punya ayah dan ibu, tapi rasulullah tak pernah kehilangan sosok ayah dan ibu.
Ada kakek dan pamannya.
Ada nenek, bibi dan ibu susunya.

***
Fase berikutnya setelah 14 tahun bagaimana? Sudah tuntas. Karena jumhur ulama sepakat usia 15 thn adalah usia aqil baligh
Artinya anak kita sudah "bukan" anak kita lagi.
Ia telah menjelma menjadi orang lain yg sepadan dengan kita.

Maka fokus dan bersabarlah mendampingi anak-anak, karna kita hanya punya waktu 14 tahun saja.
Saling mengingatkan, saling menguatkan, saling mendoakan ya teman-teman.

Semoga allah memeberikan kita kekuatan  dan bisa mempertanggungjawabkan amanah ini kelak di hari penghitungan nanti
Selamat berkumpul dan merajut cinta bersama keluarga.
Apapun keadaannya, jangan lupa bersyukur dan bahagia.

Kamis, 21 September 2017

Anak Rantau

Assalamualaikum, Wr. Wb.

Nama saya Riswan, umur saya 20 tahun masih muda, dan saya masih jomblo. Saya lahir di kolaka tepatnya di desa tolowe ponre waru. Jarak kampung saya dengan kampus itu sekitar 200 KM. Ya kalau naik mobil lumayan lama bikin kita bosan duduk. Dan jika teman-teman ingin berwisata datang aja di kampung saya disana ada namanya sungai tamborasi atau sungai terpendek di dunia, pantai pasir putih dan danau biru yang sangat indah.

Saya sekolah di SDN1 tolowe ponre waru kemudian melanjutkan pendidikan di madrasah tsanawiyah darul arqam muhammadiyah. Setelah selesai saya lanjut lagi di tempat yang sama namun sekolahnya berbeda yakni madrasah aliyah, dan Alhamdulillah lulus dan Saya melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi yang ada di sulawesi tenggara yakni Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Kendari dengan mengambil program sarjana S1 di Fakultas Ushuluddin Adab Dan dakwah program studi Bimbingan Penyuluhan Islam. Saya mulai masuk pada tahun 2015, dan mengurus program beasiswa bidikmisi yaitu beasiswa prestasi yang di programkan oleh kampus. Saya tidak mendaftar sendiri tetapi saya memiliki dua teman dari kampung yang sama. Namun, mereka tidak lulus karena berkas mereka ada yang kurang dalam artian tidak memenuhi persyaratan sehingga mereka tidak lulus berkas, dan Alhamdulillah saya lulus seleksi dan pada akhirnya saya bergabung dengan teman-teman bidikmisi yang lulus seleksi. Hingga sekarang ini saya masih menjadi anggota bidikmisi. 

Kemarin, tepat tanggal 21 September kami seluruh anak bidikmisi angkatan 2015 melakukan pembelajaran yakni Pelatihan Menulis Karya Tulis Ilmiah (KTI) yang di bimbing langsung oleh bapak Fahmi. Dimana kami semua yang berada di dalam ruangan dilatih bagaimana agar menjadi orang yang PD karena modal utama untuk tampil di depan umum itu harus ada rasa percaya diri.

Hari kamis yang lalu, saya disuruh naik ceramah didepan teman-teman, namun ketika saya naik jantung mulai berdebar kencang ketika sudah berada di depan saya langsung ceramah, karena percaya diri saya kurang saya langsung keringat dingin dan yang ingin saya sampaikan jadi lupa.
Sekian๐Ÿ˜๐Ÿ˜๐Ÿ˜......
Wassalamualaikum, Wr. Wb.

Awal Mula Suku Bugis

Nama saya Riswan, umur 20 tahun saya tinggal di desa Tolowe Ponre Waru Kabupaten Kolaka, Kecamatan Wolo, Sulawesi Tenggara. Dan disulawes...