Nama saya Riswan, umur 20 tahun saya tinggal di desa Tolowe Ponre Waru Kabupaten Kolaka, Kecamatan Wolo, Sulawesi Tenggara. Dan disulawesi tenggara ini penduduk aslinya adalah suku Tolaki namun semakin lama banyak suku-suku yang mulai pindah kedaerah ini termasuk suku saya yaituu suku Bugis nahhhh untuk untuk mengetahui bagaimana sejarah suku bugis silahkan dibaca yaaaa......
Bugis adalah suku yang tergolong ke dalam suku-suku Deutero
Melayu. Masuk ke Nusantara setelah gelombang migrasi pertama dari daratan Asia
tepatnya Yunan. Kata “Bugis” berasal dari kata To Ugi, yang berarti orang
Bugis. Penamaan “ugi” merujuk pada raja pertama kerajaan Cina yang terdapat di
Pammana, Kabupaten Wajo saat ini, yaitu La Sattumpugi. Ketika rakyat La
Sattumpugi menamakan dirinya, maka mereka merujuk pada raja mereka. Mereka
menjuluki dirinya sebagai To Ugi atau orang-orang atau pengikut dari La
Sattumpugi.
La Sattumpugi adalah ayah dari We Cudai dan bersaudara dengan
Batara Lattu, ayahanda dari Sawerigading. Sawerigading sendiri adalah suami
dari We Cudai dan melahirkan beberapa anak termasuk La Galigo yang membuat
karya sastra terbesar di dunia dengan jumlah kurang lebih 9000 halaman folio.
Sawerigading Opunna Ware (Yang dipertuan di Ware) adalah kisah yang tertuang
dalam karya sastra I La Galigo dalam tradisi masyarakat Bugis. Kisah
Sawerigading juga dikenal dalam tradisi masyarakat Luwuk, Kaili, Gorontalo dan
beberapa tradisi lain di Sulawesi seperti Buton.
1. Perkembangan
suku bugis
Dalam perkembangannya, komunitas ini berkembang dan membentuk
beberapa kerajaan. Masyarakat ini kemudian mengembangkan kebudayaan, bahasa, aksara,
dan pemerintahan mereka sendiri. Beberapa kerajaan Bugis klasik antara lain
Luwu, Bone, Wajo, Soppeng, Suppa, Sawitto, Sidenreng dan Rappang. Meski
tersebar dan membentuk suku Bugis, tapi proses pernikahan menyebabkan adanya
pertalian darah dengan Makassar dan Mandar.
Saat ini orang Bugis tersebar dalam beberapa Kabupaten yaitu Luwu,
Bone, Wajo, Soppeng, Sidrap, Pinrang, Sinjai, Barru. Daerah peralihan antara
Bugis dengan Makassar adalah Bulukumba, Sinjai, Maros, Pangkajene Kepulauan.
Daerah peralihan Bugis dengan Mandar adalah Kabupaten Polmas dan Pinrang.
Kerajaan Luwu adalah kerajaan yang dianggap tertua bersama kerajaan Cina (yang
kelak menjadi Pammana), Mario (kelak menjadi bagian Soppeng) dan Siang (daerah
di Pangkajene Kepulauan)
2. Masa
Kerajaan Kerajaan Bone
Di daerah Bone terjadi kekacauan selama tujuh generasi, yang
kemudian muncul seorang To Manurung yang dikenal Manurungnge ri Matajang. Tujuh
raja-raja kecil melantik Manurungnge ri Matajang sebagai raja mereka dengan
nama Arumpone dan mereka menjadi dewan legislatif yang dikenal dengan istilah
ade pitue.
a)
Kerajaan
Makassar
Di abad ke-12, 13, dan 14 berdiri kerajaan Gowa, Soppeng, Bone,
dan Wajo, yang diawali dengan krisis sosial, dimana orang saling memangsa
laksana ikan. Kerajaan Makassar kemudian terpecah menjadi Gowa dan Tallo. Tapi
dalam perkembangannya kerajaan kembar ini kembali menyatu menjadi kerajaan
Makassar.
b)
Kerajaan
Soppeng
Di saat terjadi kekacauan, di Soppeng muncul dua orang To
Manurung. Pertama, seorang wanita yang dikenal dengan nama Manurungnge ri
Goarie yang kemudian memerintah Soppeng ri Aja. dan kedua, seorang laki-laki
yang bernama La Temmamala Manurungnge ri Sekkanyili yang memerintah di Soppeng
ri Lau. Akhirnya dua kerajaan kembar ini menjadi Kerajaaan Soppeng.
c)
Kerajaan
Wajo
Sementara kerajaan Wajo berasal dari komune-komune dari berbagai
arah yang berkumpul di sekitar danau Lampulungeng yang dipimpin seorang yang
memiliki kemampuan supranatural yang disebut puangnge ri lampulung. Sepeninggal
beliau, komune tersebut berpindah ke Boli yang dipimpin oleh seseorang yang
juga memiliki kemampuan supranatural. Datangnya Lapaukke seorang pangeran dari
kerajaan Cina (Pammana) beberapa lama setelahnya, kemudian membangun kerajaan
Cinnotabi. Selama lima generasi, kerajaan ini bubar dan terbentuk Kerajaan
Wajo.
3. Konflik
antar Kerajaan
Pada abad ke-15 ketika kerajaan Gowa dan Bone mulai menguat, dan
Soppeng serta Wajo mulai muncul, maka terjadi konflik perbatasan dalam
menguasai dominasi politik dan ekonomi antar kerajaan. Kerajaan Bone memperluas
wilayahnya sehingga bertemu dengan wilayah Gowa di Bulukumba. Sementara, di
utara, Bone bertemu Luwu di Sungai Walennae. Sedang Wajo, perlahan juga
melakukan perluasan wilayah. Sementara Soppeng memperluas ke arah barat sampai
di Barru.
Perang antara Luwu dan Bone dimenangkan oleh Bone dan merampas
payung kerajaan Luwu kemudian mempersaudarakan kerajaan mereka. Sungai Walennae
adalah jalur ekonomi dari Danau Tempe dan Danau Sidenreng menuju Teluk Bone.
Untuk mempertahankan posisinya, Luwu membangun aliansi dengan Wajo, dengan
menyerang beberapa daerah Bone dan Sidenreng. Berikutnya wilayah Luwu semakin
tergeser ke utara dan dikuasai Wajo melalui penaklukan ataupun penggabungan.
Wajo kemudian bergesek dengan Bone. Invasi Gowa kemudian merebut beberapa
daerah Bone serta menaklukkan Wajo dan Soppeng. Untuk menghadapi hegemoni Gowa,
Kerajaan Bone, Wajo dan Soppeng membuat aliansi yang disebut “tellumpoccoe”.
4. Penyebaran
Islam
Pada awal abad ke-17, datang penyiar agama Islam dari Minangkabau
atas perintah Sultan Iskandar Muda dari Aceh. Mereka adalah Abdul Makmur (Datuk
ri Bandang) yang mengislamkan Gowa dan Tallo, Suleiman (Datuk Patimang)
menyebarkan Islam di Luwu, dan Nurdin Ariyani (Datuk ri Tiro) yang menyiarkan
Islam di Bulukumba.
a)
Kolonialisme
Belanda
Pertengahan abad ke-17, terjadi persaingan yang tajam antara Gowa
dengan VOC hingga terjadi beberapa kali pertempuran. Sementara Arumpone ditahan
di Gowa dan mengakibatkan terjadinya perlawanan yang dipimpin La Tenri Tatta
Daeng Serang Arung Palakka. Arung Palakka didukung oleh Turatea, kerajaaan
kecil Makassar yang tidak sudi berada dibawah Gowa. Sementara Sultan Hasanuddin
didukung oleh menantunya La Tenri Lai Tosengngeng Arung Matowa Wajo, Maradia
Mandar, dan Datu Luwu. Perang yang dahsyat mengakibatkan benteng Somba Opu
luluh lantak. Kekalahan ini mengakibatkan ditandatanganinya Perjanjian Bongaya
yang merugikan kerajaan Gowa.
Pernikahan
Lapatau dengan putri Datu Luwu, Datu Soppeng, dan Somba Gowa adalah sebuah
proses rekonsiliasi atas konflik di jazirah Sulawesi Selatan. Setelah itu tidak
adalagi perang yang besar sampai kemudian di tahun 1905-6 setelah perlawanan
Sultan Husain Karaeng Lembang Parang dan La Pawawoi Karaeng Segeri Arumpone
dipadamkan, maka masyarakat Bugis-Makassar baru bisa betul-betul ditaklukkan
Belanda. Kosongnya kepemimpinan lokal mengakibatkan Belanda menerbitkan Korte
Veklaring, yaitu perjanjian pendek tentang pengangkatan raja sebagai pemulihan
kondisi kerajaan yang sempat lowong setelah penaklukan. Kerajaan tidak lagi
berdaulat, tapi hanya sekedar perpanjangan tangan kekuasaaan pemerintah
kolonial Hindia Belanda, sampai kemudian muncul Jepang menggeser Belanda hingga
berdirinya NKRI.
5. Masa
Kemerdekaan
Para raja-raja di Nusantara bersepakat membubarkan kerajaan mereka
dan melebur dalam wadah NKRI. Pada tahun 1950-1960an, Indonesia khususnya
Sulawesi Selatan disibukkan dengan pemberontakan. Pemberontakan ini
mengakibatkan banyak orang Bugis meninggalkan kampung halamannya. Pada zaman
Orde Baru, budaya periferi seperti budaya di Sulawesi benar-benar dipinggirkan
sehingga semakin terkikis. Sekarang generasi muda Bugis-Makassar adalah
generasi yang lebih banyak mengkonsumsi budaya material sebagai akibat
modernisasi, kehilangan jati diri akibat pendidikan pola Orde Baru yang
meminggirkan budaya mereka. Seiring dengan arus reformasi, munculah wacana
pemekaran. Daerah Mandar membentuk propinsi baru yaitu Sulawesi Barat.
Kabupaten Luwu terpecah tiga daerah tingkat dua. Sementara banyak kecamatan dan
desa/kelurahan juga dimekarkan. Namun sayangnya tanah tidak bertambah luas,
malah semakin sempit akibat bertambahnya populasi dan transmigrasi.
6. Mata
Pencaharian
Karena masyarakat Bugis tersebar di dataran rendah yang subur dan
pesisir, maka kebanyakan dari masyarakat Bugis hidup sebagai petani dan
nelayan. Mata pencaharian lain yang diminati orang Bugis adalah pedagang.
Selain itu masyarakat Bugis juga mengisi birokrasi pemerintahan dan menekuni
bidang pendidikan.
7. Bugis
Perantauan
Kepiawaian suku Bugis-Makasar dalam mengarungi samudra cukup
dikenal luas, dan wilayah perantauan mereka pun hingga Malaysia, Filipina,
Brunei, Thailand, Australia, Madagaskar dan Afrika Selatan. Bahkan, di
pinggiran kota Cape Town, Afrika Selatan terdapat sebuah suburb yang bernama
Maccassar, sebagai tanda penduduk setempat mengingat tanah asal nenek moyang
mereka.
a)
Bugis
di Kalimantan Selatan
Pada abad ke-17 datanglah seorang pemimpin suku Bugis menghadap
raja Banjar yang berkedudukan di Kayu Tangi (Martapura) untuk diijinkan
mendirikan pemukiman di Pagatan, Tanah Bumbu. Raja Banjar memberikan gelar
Kapitan Laut Pulo kepadanya yang kemudian menjadi raja Pagatan. Kini sebagian
besar suku Bugis tinggal di daerah pesisir timur Kalimantan Selatan yaitu Tanah
Bumbu dan Kota Baru.
b)
Bugis
di Sumatera dan Semenanjung Malaysia
Setelah dikuasainya kerajaan Gowa oleh VOC pada pertengahan abad
ke-17, banyak perantau Melayu dan Minangkabau yang menduduki jabatan di
kerajaan Gowa bersama orang Bugis lainnya, ikut serta meninggalkan Sulawesi
menuju kerajaan-kerajaan di tanah Melayu. Disini mereka turut terlibat dalam
perebutan politik kerajaan-kerajaan Melayu. Hingga saat ini banyak raja-raja di
Johor yang merupakan keturunan Bugis.
8. Penyebab
Merantau
Konflik
antara kerajaan Bugis dan Makassar serta konflik sesama kerajaan Bugis pada
abad ke-16, 17, 18 dan 19, menyebabkan tidak tenangnya daerah Sulawesi Selatan.
Hal ini menyebabkan banyaknya orang Bugis bermigrasi terutama di daerah
pesisir. Selain itu budaya merantau juga didorong oleh keinginan akan
kemerdekaan. Kebahagiaan dalam tradisi Bugis hanya dapat diraih melalui
kemerdekaan.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar